Saat ini status perijinan Gereja kita sudah di Walikota dan semua procedure sudah kita jalani dengan sabar dan memakan waktu cukup lama (sekitar 7 tahun). Waktu ini pastilah belum terlalau lama jika dibandingkan waktu yang dibutuhkan Bangsa Pilihan Allah keluar dari tanah Mesir dan berjalan dengan sabar selama 40 tahun di padang gurun sebelum sampai ke tanah perjanjian. Kesabaran memang buah roh yang TUHAN mau kita umatNYA memilikinya.
Sekarang ketika ijin sudah didepan mata pertanyaan selanjutnya adalah darimana kita bisa mendapatkan dananya. Dana yang mungkin cukup besar buat kita jemaat TUHAN di Kranggan tetapi tidak terlalu besar untuk TUHAN kita yang punya segalanya dan sangat mengasihi kita serta selalu menyertai kita. Tetapi mengandalkan TUHAN tanpa bersedia terlibat berperan juga bukan pilihan yang bijaksana. TUHAN selalu bekerja melalui anak-anaknya dan pertanyaan sesungguhnya adalah apakah kita mau terlibat dalam rencana TUHAN membangun rumah TUHAN di GKI Kranggan ? lahan dan ijin sudah TUHAN siapkan dan sekarang giliran kita bekerja bersama TUHAN untuk bisa mendapatkan dana pembangunannya.
Panitia pembangunan sudah menjalankan gerakan partisipasi dari setiap jemaat dan simpatisan di GKI kranggan dengan nama gerakan K 1000 yang sudah berjalan selama 5 tahun an. Gerakan ini adalah gerakan menyisihkan Rp 1.000 rupiah setiap hari dari uang jajan (untuk anak sekolah) dan uang dapur (untuk Ibu Rumah Tangga) dan lainnya. Rp 1.000 rupiah sehari memang kecil tetapi jika kita disiplin maka hasilnya luar biasa dan ini juga bukti partisipasi kita. gerakan yang sudah berjalan ini bisa mengumpulkan dana lumayan besar dan saat ini sudah ada sekitar 1.1 Milyar dari dana ini dan persembahan pembangunana dua minggu sekali + janji iman yang rutin ditransfer oleh jemaat dan simpatisan GKI Kranggan.
Saat ini untuk segera memulai pembangunan maka dana yang kita perlukan menjadi cukup besar sekitar 5 milyar untuk tahap awal. Panitia Pembangunan mengajak semua yang membaca blog ini bisa partisipasi Rp 50.000,- atau Rp 100.000,- atau berapapun semampunya dan MENGAJAK 10 orang untuk ikutan partisipasi. Kami berharap dengan satu orang mengajak 10 orang maka akan didapat jumlah partisipan yang besar sehingga beban pembangunan ini terasa ringan. Maukah saudara terlibat dalam rencana ini ?
JIka TUHAN gerakan hati saudara, maka : Semua Sumbangan untuk Pembangunan kiranya dapat dikirimkan ke Rekening BCA Cabang Cibubur dengan No rekening : AC 628 021 6788 a/n Gereja Kristen Indonesia.
BERSAMA KITA BISA.....BERSAMA SEMUA TERASA RINGAN
TUHAN YESUS MEMBERKATI PELAYANAN KITA BERSAMA
Minggu, 20 Oktober 2013
CHURCH BUILDING CONSTRUCTION PROPOSAL
GKI KRANGGAN, JATIKARYA - BEKASI
A. BACKGROUND OF DEVELOPMENT
Within its fifteen years of service
(from 1996 to 2012), GKI Krangggan has grown well as reflected from the number of church
members that increase by 9.7% in average annually. However, the growth is not
merely due to the hard works of GKI Kranggan church council, boards and
members, but it is more due to guidance and the blessing of Christ, the head of
the church.
In facing the task
to develop church members that is getting more complecated nowadays, the church
– as the prime mover of the growth – is demanded to facilitate each service for
its members. It is one of GKI Kranggan responsibilities to be able to win more
souls that keep on growing and are longing to the love of Christ. And the souls
are living in Kranggan – Cibubur and in surrounding regions. The manifestation
of this responsibility is by providing a legal, safe and comfortable worshipping
venue that has not been owned by GKI Kranggan so far.
Under current
socio-political situation and condition in Indonesia, we need more tactical
strategies to build a worshipping building, besides we should also work hard in
collecting the needed funds so that the worshipping building could be built
without any earthly constraints. Meanwhile a number of changes currently taking
place in our society – namely liberation, reformation and transparency – has
called the church to always try the best to adapt the maturity level of its
members so that they will remain believing firmly that Jesus Christ is the only
way to salvation.
In line with the plan, GKI Kranggan needs to set up a policy strategy
for the worshipping building construction plan that will begin by the end
semester of 2009. Due to that reason, the active role of every church members
and sympathizers in supporting each phase of the development are always
expected within the same frame of spirit, namely for the Glory of the Lord.
B.
CHURCH BUILDING CONSTRUCTION PROGRAM
1. Preparation
The serving committee of the worshipping
building construction is the extention of the earlier committee in charge of
finding the land for the construction site. Therefore, the already-purchased
land is the land that has earlier been prepared and chosen by the committee
under tight considerations. Meanwhile, the task of the Church building
committee is to prepare all the needs for the construction of the worshipping
building in the available land.
2.
Budgeting Plan
In accordance to
the previously agreed plan, the approximate overall budgeting cost for around
1500m2 building is Rp. 9,497,630,000 (Nine billion four hundreds and ninety
seven million six hundred and thirty thousand rupiah) consisting of:
A. Phase I Construction (preparation, foundation, building structure,
building rooft, doors and windows) Rp. 2,614,909,000
B. Phase II Construction (Floor, plafond, paint,
sanitary, interior and electricity installation) Rp. 3,239,355,000
C. Phase III Construction
(Supporting building construction, houses for Reverends and guest Reverends) Rp. 3,191,097,000
D. Unpredicted Cost (5%) Rp. 452,268,000
3. Current Result
Through all His blessing the committee has
so far accomplished some tasks:
a.
Preparing
the certificated land site measuring 2,500m2 near the housing complex of Citra
Grand Jati Karya, Bekasi
b.
Accomplishing the technical
planning
c.
Gaining
the access from neighboring residents and community leaders nearby the church
site
d.
Obtaining loan as much as Rp. 1.750.000.000,-
C. FUNDRAISING
1.
Internal Fundraising
Namely by
collecting church collections from GKI Bajem Kranggan church members and
sympathizers in the form of money or goods by:
- q Collecting special church collection envelopes for the development (K 1000)
- q Personal visit to the house of each church member or sympathizers to show the detail presentation on the church development plan
- q The sale of component and or parts of worshipping building
2. External Fundraising
Namely collecting
funds from individual donators, organisation (for instance: GKI SW-West Java
classis South Jakarta and GKI Priangan) or institutions acknowledged by church
members both in the form of money or good through some ways:
q Sending proposal to hopeful individual donator or institutions
acknowledged by each church member
q The sale of food, souvenirs, calendar and others
q The holding of art and worshipping night
q Painting exhibition and auction
q Golf Tournament
q Praise and Worship Night
D. CHURCH BUILDING CONSTRUCTION COMMITTEE
Advisor:
- Pdt. Iman Sugio Ibrahim
- Pnt. Darmawasih Manullang
Guidance Elders/Presbyter:
- Pnt. Hiddon Simamora
- Pnt. Tutina Octavina
- Pnt. Sony Danang Caksono
- Pnt. Dalu Tjahyono
- Pnt. Hartanta Tarigan
Chairman : Johny
Kadarma
Chairman II : Esron Silalahi
Secretary : Kenyo Wulan Trisparwati
Secretary : Kenyo Wulan Trisparwati
Secretray II : Myfriend Parlin Limbong
Treasurer : Lianah
Treasurer : Lianah
Treasurer
II : Duma Lina Siahaan
Funding Section : Petrus Padmardjo (Coordinator)
Funding Section : Petrus Padmardjo (Coordinator)
- Sri Rimita Tarigan
- Megy Magdalena Laihad
- Retno Sulistyowati
- Yulius Bobo
- Boyker Panjaitan
- Daud Sihombing
- Gideon Edi Purnomo
- Edward Nainggolan
- Budiadi
Public Relation:
§
Yudo
Satrio Putranto
§ Servaniandei Satyaprawira
Benyamin Lumy
Technical Section: Rizal Hutagalung (Coordinator)
§ Revolin Lase
Legal Section: John Talo Manafe (Coordinator)
§ Alfrits Kapahang
§ Julius Tandas Tundang
Rabu, 29 Juli 2009
Gerejaku, Gerejamu, Gereja kita semua
(Sebuah pemikiran tentang Gereja dan Pembangunan Gereja)
Bicara tentang gereja, maka mungkin pikiran kita akan lebih tearah kepada gedung gereja, sebuah bangunan fisiknya. Oleh karena itu mungkin yang terbayang oleh kita adalah kemegahan gedung gereja, luas dan besar bangunannya atau indahnya interiornya, atau bahkan mungkin sebaliknya. Yang terbayang adalah betapa sederhana dan sempitnya gedung gereja. Tapi gereja bukan sekedar itu ! Yang disebut gereja terutama adalah orang-orangnya. Orang-orang yang dalam bahasa Alkitab disebut “Ekklesia” (Ek=Ex = keluar, dan Kaleo = dipanggil). Jadi orang-orang yang dipanggil keluar, yang kemudian dihimpun Allah untuk menjadi UmatNya (bdk II Petrus 2:9-10). Orang-orang yang dipanggil dan dihimpun ini, tidak lalu menjadi atau dijadikan oleh Allah sebagai kelompok yang eksklusif, yang terpisah dan tidak ada hubungan dengan dunia. Tetapi mereka dikhususkan (dikuduskan) Allah untuk menerima dan menjalankan tugas mengabarkan kasih kepada dunia ini. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyebut para murid atau pengikutNya sebagai garam dan terang dunia (Mat 5:13-15). Sebagai garam dan terang dunia maka sudah menjadi tugasnyalah untuk menerangi dan menggarami dunia ini. Bukan hanya bagi dirinya atau kelompoknya saja ! Gereja dan orang-orang di dalamnya tidak boleh menjadi eksklusif tapi harus inklusif untuk dapat terus mencontoh kasih Allah bagi dunia ini.
Gereja yang mana yang akan kita bangun? Gedungnyakah? Tentu tidak hanya itu. Gedung itu hanyalah salah satu sarana saja untuk menyatakan kasih Allah. Kita rindu “apa yang ada di dalamnya” yang dapat dibangun dengan baik. Kita rindu gereja kita dapat menjadi gereja yang baik yang dapat menerapkan beberapa hal yang harus ada sebagai gereja. Hal-hal tersebut adalah : (bdk Kis 4:32-37)
1. Kerinduan umat untuk belajar Firman Allah
Firman Allah dapat menjadi “pelita” yang menerangi langkah hidup kita sehingga kita tidak tersesat di tengah kegelapan dunia ini. Dengan itu, dan jika kita senantiasa melakukan itu, maka kita akan tidak sama dengan dunia ini dan dapat menjadi contoh yang baik bagi dunia. Bagaimana kerinduan kita saat ini kepada Firman Allah?
2. Perhatian dan kepedulian terhadap sesama
Itulah sebabnya gereja disebut “Persekutuan” bukan hanya kumpulan atau kerumunan. Dalam persekutuan akan selalu ada perhatian dan kepedulian terhadap orang lain, sehingga selalu ada kerelaan untuk berbagi dan saling menolong atau menopang. Tidak hanya sekedar kumpul atau berkerumun pada hari Minggu.
Untuk dapat mencapai semuanya itu, tentunya sangat diperlukan dua hal :
Yang pertama : Perencanaan
Amsal 24:18a mengatakan, “ Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat”. Terjemahan dalam KJV ” where these is no vision, people perish”. Vision atau visi menjadi sesuatu yang sangat penting, Tanpa itu kita akan hancur atau gagal. Maka perencanaan yang senatiasa kita bawa ke dalam bimbingan tangan Tuhan akan sangat menolong setiap upaya kita.
Yang kedua : Dukungan
Dukungan dalam kebersamaan kita akan menjadikan segala sesuatu lebih mudah dan mungkin dikerjakan. Dengan saling menopang dan melengkapi, maka kita yakin pekerjaan pembangunan gereja kita akan dapat terlaksana. Maka diperlukan dukungan doa, tenaga dan juga dana dari semua dan setiap kita.
Kerinduan kita adalah agar gereja kita dapat menjadi :
Gereja yang memiliki persekutuan yang akrab dan hangat.
Gereja yang terus bertumbuh dalam iman kepada Kristus Yesus.
Gereja yang melayani setiap orang, termasuk masyarakat di sekitar kita. Sehingga gereja dapat menjadi berkat bagi semua orang.
Gereja yang memampukan setiap orang, bukan hanya secara rohani yang terus bertumbuh, tapi yang juga memampukan setiap orang untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, melawat yang sakit dan membalut yang terluka.
Kranggan, 29 Juli 2009
Iman Sugio Ibrahim
Bicara tentang gereja, maka mungkin pikiran kita akan lebih tearah kepada gedung gereja, sebuah bangunan fisiknya. Oleh karena itu mungkin yang terbayang oleh kita adalah kemegahan gedung gereja, luas dan besar bangunannya atau indahnya interiornya, atau bahkan mungkin sebaliknya. Yang terbayang adalah betapa sederhana dan sempitnya gedung gereja. Tapi gereja bukan sekedar itu ! Yang disebut gereja terutama adalah orang-orangnya. Orang-orang yang dalam bahasa Alkitab disebut “Ekklesia” (Ek=Ex = keluar, dan Kaleo = dipanggil). Jadi orang-orang yang dipanggil keluar, yang kemudian dihimpun Allah untuk menjadi UmatNya (bdk II Petrus 2:9-10). Orang-orang yang dipanggil dan dihimpun ini, tidak lalu menjadi atau dijadikan oleh Allah sebagai kelompok yang eksklusif, yang terpisah dan tidak ada hubungan dengan dunia. Tetapi mereka dikhususkan (dikuduskan) Allah untuk menerima dan menjalankan tugas mengabarkan kasih kepada dunia ini. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyebut para murid atau pengikutNya sebagai garam dan terang dunia (Mat 5:13-15). Sebagai garam dan terang dunia maka sudah menjadi tugasnyalah untuk menerangi dan menggarami dunia ini. Bukan hanya bagi dirinya atau kelompoknya saja ! Gereja dan orang-orang di dalamnya tidak boleh menjadi eksklusif tapi harus inklusif untuk dapat terus mencontoh kasih Allah bagi dunia ini.
Gereja yang mana yang akan kita bangun? Gedungnyakah? Tentu tidak hanya itu. Gedung itu hanyalah salah satu sarana saja untuk menyatakan kasih Allah. Kita rindu “apa yang ada di dalamnya” yang dapat dibangun dengan baik. Kita rindu gereja kita dapat menjadi gereja yang baik yang dapat menerapkan beberapa hal yang harus ada sebagai gereja. Hal-hal tersebut adalah : (bdk Kis 4:32-37)
1. Kerinduan umat untuk belajar Firman Allah
Firman Allah dapat menjadi “pelita” yang menerangi langkah hidup kita sehingga kita tidak tersesat di tengah kegelapan dunia ini. Dengan itu, dan jika kita senantiasa melakukan itu, maka kita akan tidak sama dengan dunia ini dan dapat menjadi contoh yang baik bagi dunia. Bagaimana kerinduan kita saat ini kepada Firman Allah?
2. Perhatian dan kepedulian terhadap sesama
Itulah sebabnya gereja disebut “Persekutuan” bukan hanya kumpulan atau kerumunan. Dalam persekutuan akan selalu ada perhatian dan kepedulian terhadap orang lain, sehingga selalu ada kerelaan untuk berbagi dan saling menolong atau menopang. Tidak hanya sekedar kumpul atau berkerumun pada hari Minggu.
Untuk dapat mencapai semuanya itu, tentunya sangat diperlukan dua hal :
Yang pertama : Perencanaan
Amsal 24:18a mengatakan, “ Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat”. Terjemahan dalam KJV ” where these is no vision, people perish”. Vision atau visi menjadi sesuatu yang sangat penting, Tanpa itu kita akan hancur atau gagal. Maka perencanaan yang senatiasa kita bawa ke dalam bimbingan tangan Tuhan akan sangat menolong setiap upaya kita.
Yang kedua : Dukungan
Dukungan dalam kebersamaan kita akan menjadikan segala sesuatu lebih mudah dan mungkin dikerjakan. Dengan saling menopang dan melengkapi, maka kita yakin pekerjaan pembangunan gereja kita akan dapat terlaksana. Maka diperlukan dukungan doa, tenaga dan juga dana dari semua dan setiap kita.
Kerinduan kita adalah agar gereja kita dapat menjadi :
Gereja yang memiliki persekutuan yang akrab dan hangat.
Gereja yang terus bertumbuh dalam iman kepada Kristus Yesus.
Gereja yang melayani setiap orang, termasuk masyarakat di sekitar kita. Sehingga gereja dapat menjadi berkat bagi semua orang.
Gereja yang memampukan setiap orang, bukan hanya secara rohani yang terus bertumbuh, tapi yang juga memampukan setiap orang untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, melawat yang sakit dan membalut yang terluka.
Kranggan, 29 Juli 2009
Iman Sugio Ibrahim
Senin, 04 Mei 2009
Tujuh Karakteristik Gereja yang Hidup
Gereja yang hidup adalah gereja yang "meminjam istilah Dietrich Bonhoeffer" ke dalam bermakna, ke luar relevan. Dengan kata lain, kehadirannya dirasakan tidak hanya oleh umat, tetapi juga oleh masyarakat di sekitarnya. Gereja yang hidup, pada dirinya sendiri, adalah Injil, kabar baik, bukan hanya bagi para warga jemaat di dalamnya, tetapi juga bagi masyarakat di luar gereja. Ia seperti "oase" di tengah padang gurun dunia. Berikut ini adalah tujuh karakteristik gereja yang hidup.
1.Visi yang jelas
Visi seumpama titik terang di ujung lorong yang gelap, kepadanya segala daya dan upaya diarahkan. Visi tidak hanya akan menjawab pertanyaan untuk apa gereja itu ada, tapi juga kemana gereja itu akan mengarah. Oleh sebab itu, gereja ada tidak sekadar "menggelinding". Padat programnya, sibuk aktivitasnya, tetapi tidak jelas maknanya. Gereja mesti tahu kemana arah tujuan dan apa yang ingin dicapai. Ia tidak berjalan bagai dalam labirin tak berujung. Dalam Amsal 29:18 versi King James dikatakan, "Where there is no vision, the people perish". Tanpa visi, rakyat binasa (Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan: "Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat"). Memiliki visi seumpama anak panah yang punya sasaran bidik; titik di mana semua energi, kemampuan, dan perhatian seluruh anggota diarahkan; landasan sekaligus tujuan dari semua kegiatan dan program gereja.
2.Struktur organisasi yang dinamis
Tidak ada yang meragukan peran Roh Kudus dalam gereja. Namun, hal itu bukan berarti gereja tidak perlu ditata. Paulus mengatakan bahwa segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur (1 Korinstus 14:40). Struktur organisasi yang dinamis memungkinkan "aturan main" yang jelas, tegas, sekaligus terarah, sehingga gereja cepat tanggap, bereaksi secara akurat, dan berinteraksi secara tepat. Ketidakharmonisan bisa diminimalkan, potensi yang ada pun bisa disalurkan lebih efektif dan efisien untuk mencapai visi.
3.Ibadah yang hangat
Guru Sekolah Minggu bertanya kepada seorang anak, "Mengapa tidak boleh berisik di gereja?" Si anak menjawab, "Karena mengganggu orang tidur!" Cerita ini memang hanya joke/lelucon, tetapi joke biasanya berangkat dari sebuah realitas tertentu. Ibadah yang hangat memungkinkan jemaat pulang dari beribadah dengan mendapatkan "sesuatu"; baik dari khotbah yang disampaikan, maupun dari suasana ibadah yang dibangun, sehingga dapat dijadikan "bekal" dalam hidup keseharian mereka.
Akan tetapi, jangan salah, ibadah yang "hidup" tidak sama dengan ibadah yang ingar bingar, penuh musik, dan sorak sorai. John Stott berpendapat tentang ibadah yang penuh kekhidmatan sekaligus penuh sukacita, yaitu ketika warga jemaat turut terlibat dengan penuh antusias; khotbah disampaikan oleh hamba Tuhan yang secara sungguh-sungguh menyiapkan dan menggumuli firman Tuhan; tim musik dan pemandu pujian yang disiapkan dengan baik.
4.Persekutuan yang akrab
Relasi akrab antar warga jemaat itu penting. Relasi yang akrab akan mengikat mereka dalam sebuah persekutuan yang harmonis. Seumpama sebuah keluarga, perbedaan bisa tetap ada, bahkan juga konflik. Namun, itu semua tidak akan sampai memisahkan. Sebab ada dasar kokoh yang melandasi, yaitu kasih Kristus. Paulus sangat menekankan relasi kasih ini (Kolose 3:12-17, Filipi 2:1-11). Tuhan Yesus juga menasihatkan para murid untuk saling mengasihi (Yoh 15:12). Bahkan relasi kasih ini dikatakan sebagai identitas para murid-Nya (Yoh 15:14-16). Bisa jadi kedengarannya "klise", tetapi itulah yang harus dibangun. Tanpa dasar kasih Kristus, tidak akan ada keakraban. Ciri-ciri persekutuan yang akrab, yaitu adanya kerinduan untuk bertemu, rasa "nyaman" dan "aman" bila bersama-sama, dan ada keinginan untuk saling berbagi dan melindungi.
5.Pembinaan yang berkesinambungan dan terarah
Pembinaan kelompok-kelompok di dalam jemaat (sekolah minggu, remaja, pemuda, dewasa muda, dewasa) dilakukan secara berkesinambungan dan terarah; tidak sporadis; tidak berjalan sendiri-sendiri; bukan suka-suka kelompok yang bersangkutan. Begitu juga kelompok-kelompok lain, seperti persekutuan wilayah, kelompok sel, dan pendalaman Alkitab. Pertanyaan kunci guna menunjang pembinaan yang berkesinambungan dan terarah adalah apa yang mau dicapai pada masa yang akan datang.
6.Pelayanan ke luar dan ke dalam
Pelayanan yang dimaksud di sini adalah "pelayanan sosial", seperti ketika para rasul menunjuk ketujuh orang diaken dalam Kisah Para Rasul 6:1-7. Jadi, sementara para rasul fokus pada "pelayanan firman", "pelayanan sosial" tidak terabaikan. Gereja tidak semestinya hanya berkutat dengan "masalah rohani", tetapi juga perlu "menggarap pelayanan sosial"; kepada jemaat "perkunjungan, diakonia, dan sebagainya" dan kepada masyarakat di sekitar gereja : beasiswa, poliklinik, posyandu, pelatihan keterampilan, dan sebagainya. Untuk itu, gereja memerlukan inovasi-inovasi baru. Intinya adalah bagaimana agar kehadiran gereja betul-betul dapat dirasakan sebagai berkat.
7.Membawa perubahan hidup
Apabila misi ke luar gereja adalah supaya semakin banyak orang merasakan sapaan kasih Allah, mengenal, dan mengakui Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, misi ke dalam gereja adalah menjadikan warganya memiliki sikap hidup yang "berbeda" dalam keseharian mereka di mana pun dan dalam peran apa pun. Seperti jemaat mula-mula yang tidak hanya bertumbuh di dalam, tetapi juga "bersinar" di luar. Kisah Para Rasul 2:47 menyatakan, "Dan mereka disukai semua orang." Setiap orang kristiani memiliki identitas ganda; dipanggil dari dunia dan diutus ke dalam dunia. Artinya, dipanggil untuk menjadi berbeda dari "orang dunia", tanpa menjadi terpisah dari dunia. Identitas kekristenan semestinya tidak hanya tampak dalam kehidupan ibadah, tetapi juga nyata dalam kehidupan etis. Menjadi garam dan terang dunia (Matius 5:13-16).
Disadur dari : Sisipan Renungan Harian ditulis oleh : Ayub Yahya
1.Visi yang jelas
Visi seumpama titik terang di ujung lorong yang gelap, kepadanya segala daya dan upaya diarahkan. Visi tidak hanya akan menjawab pertanyaan untuk apa gereja itu ada, tapi juga kemana gereja itu akan mengarah. Oleh sebab itu, gereja ada tidak sekadar "menggelinding". Padat programnya, sibuk aktivitasnya, tetapi tidak jelas maknanya. Gereja mesti tahu kemana arah tujuan dan apa yang ingin dicapai. Ia tidak berjalan bagai dalam labirin tak berujung. Dalam Amsal 29:18 versi King James dikatakan, "Where there is no vision, the people perish". Tanpa visi, rakyat binasa (Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan: "Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat"). Memiliki visi seumpama anak panah yang punya sasaran bidik; titik di mana semua energi, kemampuan, dan perhatian seluruh anggota diarahkan; landasan sekaligus tujuan dari semua kegiatan dan program gereja.
2.Struktur organisasi yang dinamis
Tidak ada yang meragukan peran Roh Kudus dalam gereja. Namun, hal itu bukan berarti gereja tidak perlu ditata. Paulus mengatakan bahwa segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur (1 Korinstus 14:40). Struktur organisasi yang dinamis memungkinkan "aturan main" yang jelas, tegas, sekaligus terarah, sehingga gereja cepat tanggap, bereaksi secara akurat, dan berinteraksi secara tepat. Ketidakharmonisan bisa diminimalkan, potensi yang ada pun bisa disalurkan lebih efektif dan efisien untuk mencapai visi.
3.Ibadah yang hangat
Guru Sekolah Minggu bertanya kepada seorang anak, "Mengapa tidak boleh berisik di gereja?" Si anak menjawab, "Karena mengganggu orang tidur!" Cerita ini memang hanya joke/lelucon, tetapi joke biasanya berangkat dari sebuah realitas tertentu. Ibadah yang hangat memungkinkan jemaat pulang dari beribadah dengan mendapatkan "sesuatu"; baik dari khotbah yang disampaikan, maupun dari suasana ibadah yang dibangun, sehingga dapat dijadikan "bekal" dalam hidup keseharian mereka.
Akan tetapi, jangan salah, ibadah yang "hidup" tidak sama dengan ibadah yang ingar bingar, penuh musik, dan sorak sorai. John Stott berpendapat tentang ibadah yang penuh kekhidmatan sekaligus penuh sukacita, yaitu ketika warga jemaat turut terlibat dengan penuh antusias; khotbah disampaikan oleh hamba Tuhan yang secara sungguh-sungguh menyiapkan dan menggumuli firman Tuhan; tim musik dan pemandu pujian yang disiapkan dengan baik.
4.Persekutuan yang akrab
Relasi akrab antar warga jemaat itu penting. Relasi yang akrab akan mengikat mereka dalam sebuah persekutuan yang harmonis. Seumpama sebuah keluarga, perbedaan bisa tetap ada, bahkan juga konflik. Namun, itu semua tidak akan sampai memisahkan. Sebab ada dasar kokoh yang melandasi, yaitu kasih Kristus. Paulus sangat menekankan relasi kasih ini (Kolose 3:12-17, Filipi 2:1-11). Tuhan Yesus juga menasihatkan para murid untuk saling mengasihi (Yoh 15:12). Bahkan relasi kasih ini dikatakan sebagai identitas para murid-Nya (Yoh 15:14-16). Bisa jadi kedengarannya "klise", tetapi itulah yang harus dibangun. Tanpa dasar kasih Kristus, tidak akan ada keakraban. Ciri-ciri persekutuan yang akrab, yaitu adanya kerinduan untuk bertemu, rasa "nyaman" dan "aman" bila bersama-sama, dan ada keinginan untuk saling berbagi dan melindungi.
5.Pembinaan yang berkesinambungan dan terarah
Pembinaan kelompok-kelompok di dalam jemaat (sekolah minggu, remaja, pemuda, dewasa muda, dewasa) dilakukan secara berkesinambungan dan terarah; tidak sporadis; tidak berjalan sendiri-sendiri; bukan suka-suka kelompok yang bersangkutan. Begitu juga kelompok-kelompok lain, seperti persekutuan wilayah, kelompok sel, dan pendalaman Alkitab. Pertanyaan kunci guna menunjang pembinaan yang berkesinambungan dan terarah adalah apa yang mau dicapai pada masa yang akan datang.
6.Pelayanan ke luar dan ke dalam
Pelayanan yang dimaksud di sini adalah "pelayanan sosial", seperti ketika para rasul menunjuk ketujuh orang diaken dalam Kisah Para Rasul 6:1-7. Jadi, sementara para rasul fokus pada "pelayanan firman", "pelayanan sosial" tidak terabaikan. Gereja tidak semestinya hanya berkutat dengan "masalah rohani", tetapi juga perlu "menggarap pelayanan sosial"; kepada jemaat "perkunjungan, diakonia, dan sebagainya" dan kepada masyarakat di sekitar gereja : beasiswa, poliklinik, posyandu, pelatihan keterampilan, dan sebagainya. Untuk itu, gereja memerlukan inovasi-inovasi baru. Intinya adalah bagaimana agar kehadiran gereja betul-betul dapat dirasakan sebagai berkat.
7.Membawa perubahan hidup
Apabila misi ke luar gereja adalah supaya semakin banyak orang merasakan sapaan kasih Allah, mengenal, dan mengakui Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, misi ke dalam gereja adalah menjadikan warganya memiliki sikap hidup yang "berbeda" dalam keseharian mereka di mana pun dan dalam peran apa pun. Seperti jemaat mula-mula yang tidak hanya bertumbuh di dalam, tetapi juga "bersinar" di luar. Kisah Para Rasul 2:47 menyatakan, "Dan mereka disukai semua orang." Setiap orang kristiani memiliki identitas ganda; dipanggil dari dunia dan diutus ke dalam dunia. Artinya, dipanggil untuk menjadi berbeda dari "orang dunia", tanpa menjadi terpisah dari dunia. Identitas kekristenan semestinya tidak hanya tampak dalam kehidupan ibadah, tetapi juga nyata dalam kehidupan etis. Menjadi garam dan terang dunia (Matius 5:13-16).
Disadur dari : Sisipan Renungan Harian ditulis oleh : Ayub Yahya
Minggu, 16 November 2008
PROPOSAL PANITIA PEMBANGUNAN GKI KRANGGAN
PROPOSAL
PANITIA PEMBANGUNAN
GEREJA GKI KRANGGAN
CIBUBUR AREA
LATAR BELAKANG
Berdirinya Gereja GKI Kranggan diawali dengan pergumulan pada tahun 1995 oleh Majelis Jemaat GKI Pondok Melati (d/h Pondok Gede/Raya Hankam) untuk dapat melayani anggota jemaat dan warga Kristiani di Wilayah Kranggan dan sekitarnya, maka saat itu dipilihlah rumah di salah satu keluarga di perumahan Kranggan Permai. Peribadatan ini merupakan bagian dari pelayanan GKI yang pertama kali diadakan di wilayah Kranggan yang selanjutnya disebut sebagai Pos Persekutuan Kesaksian dan Pelayanan (PKP) Kranggan. Kemudian untuk mengantisipasi pertumbuhan serta perkembangan jemaat, Pos PKP mengontrak sebuah RUKO (Rumah Toko) di Kompleks Kranggan Permai. Melalui Pelawatan Badan Pekerja Majelis Klasis Jakarta Selatan, maka pada tanggal 14 Juli 2001 PMK-JS memutuskan Pos PKP Kranggan ditingkatkan statusnya menjadi Bakal Jemaat (Bajem) GKI Kranggan. Pada tanggal 14 Agustus 2002, Bajem GKI Kranggan melakukan kebaktian peletakan batu pertama pembangunan rumah peribadatan Bajem GKI Kranggan di lahan Ruko Blok RT12 No 10. yang dipimpin oleh Pdt. Ciptomartalu Sapangi Sth. Kebaktian pertama di Ruko yang baru ini dilakukan pada tanggal 2 February 2003. Dalam waktu enam bulan pembangunan Rumah ibadah ini telah dapat diselesaikan dengan sempurna. Akhirnya berdasarkan pelawatan dan Persidangan Majelis Klasis Jakarta Selatan (MKJS) ke-8 tanggal 23 Juli 2005, maka diputuskan peningkatan status Bajem GKI Kranggan menjadi GKI Kranggan.
Pada tanggal 28 Nopember 2005 di Gedung Pandan Sari – Taman Bunga Wiladatika – Cibubur dilaksanakan kebaktian pelembagaan Bajem GKI Kranggan menjadi GKI Kranggan yang dipimpin oleh Pdt. Yoseph The To Liong. GKI Kranggan merupakan jemaat yang ke-94 di lingkup GKI SW Jabar.
Pertumbuhan Jemaat GKI Kranggan yang begitu cepat menimbulkan konsekuensi logis terhadap kebutuhan ruangan yang juga semakin meningkat.Jika kita melihat pertambahan anggota jemaat tahun 2007 sebanyak 58 orang, tahun 2008 sebanyak 65 orang dan 2009 sampai dengan July sebanyak 61 orang. Kondisi saat ini sebagai gereja yang mandiri, GKI Kranggan melaksanakan kebaktian umum setiap minggu sebanyak 3 (tiga) kali. Pada kebaktian I jam 07.00, rata-rata jumlah pengunjung ± 105 orang, sedangkan Kebaktian II jam 09.00, rata-rata berjumlah ± 225 orang dan Kebaktian III jam 17.00 rata-rata jumlah pengunjung ± 50 orang,. Sedangkan Kebaktian Sekolah Minggu di buka 4 kelas yakni: Kelas Probel, Kelas Kecil, Kelas Besar dan Kelas Pra Remaja. Kebaktian tersebut belum termasuk kegiatan Persekutuan Remaja/Pemuda, Kelas Katekisasi, Persiapan Guru Sekolah Minggu, Pemahaman Alkitab, Komisi Dewasa dll, sehingga seringkali kegiatan-kegiatan tersebut tidak dapat dilakukan karena terbatasnya ruang yang ada
Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah upaya gereja dalam menyikapi Surat Keputusan (SK) Bersama Dua Menteri (Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama) No.: 01/BER/MDN-MAG/1969, serta mengacu pada Peraturan Daerah (PERDA) Kabupaten/Kota Bekasi, yang menyebutkan bahwa: “Bangunan Rumah Toko (RUKO) dan Rumah Tinggal, tidak boleh digunakan untuk/sebagai tempat beribadah” ,
KERINDUAN JEMAAT
Berdasarkan kondisi-kondisi tersebut diatas, maka sebagai gereja yang mandiri GKI Kranggan berkerinduan :
Memiliki lahan/areal tanah yang cukup luas untuk pembangunan gedung/tempat ibadah yang representatif, permanen, lengkap dengan sarana dan prasarananya agar jemaat dapat beribadah dengan nyaman dan aman.
Memenuhi kebutuhan dengan segala aktifitas kegiatannya berupa fasilitas ruang ibadah yang dapat menampung ± 750 orang dimasa mendatang.
Menata dan melengkapi kebutuhan rumah tangganya sendiri sebagai gereja yang mandiri sebagai tempat perjumpaan antara Allah dan umatnya kelengkapan itu antara lain :
1. Ruang konsistori/ruang persiapan ibadah untuk anggota Majelis Jemaat, termasuk ruang tukar/ganti pakaian pengerja/pendeta (saat kebaktian),
2. Ruang rapat majelis dan komisi-komisi/bidang-bidang pelayanan jemaat,
3. Ruang sekolah minggu anak-anak (Kelas Probel, Kelas Kecil, Kelas Besar, Pra Remaja dan Pemuda),
4. Aula untuk aktivitas lainnya.
Menyediakan halaman parkir yang cukup untuk menampung kendaraan motor/ roda dan mobil/roda 4 bagi para jemaat.
Memiliki Sertifikat Hak Atas Tanah, sebagai jaminan kepastian hukum, memiliki IMB dan izin beribadah,
Setelah bergumul lebih dari 4 tahun untuk mencari lahan disertai ijin dari lingkungan untuk membangun Gereja. Maka TUHAN YESUS menjawab dengan menyediakan lahan seluas 2540 meter2 di samping Citragrand untuk Gereja berikut lahan parkirnya. (Foto lahan dan Sertifikat bisa dilihat di website panitia pembangunan : http://gki-kranggan.blogspot.com/ ). Puji TUHAN karena campur tangannya maka ijin dari 90 warga sekitar juga sudah diperoleh dan juga pelunasan lahan sudah berhasil dilakukan bulan Januari 2009.
ANGGARAN
Kami yakin partisipasi Bapak/Ibu/saudara adalah kehendak TUHAN semata untuk membangun tempat ibadah bagi umat NYA memulaikan nama NYA. Adapun perkiraan pengeluaran/kebutuhan dana adalah sebagai berikut :
NO. URAIAN PEKERJAAN JUMLAH HARGA (Rp)
I PEKERJAAN PERSIAPAN Rp 128,562,650.00
II PEKERJAAN TURAP BATU KALI dan PAGAR Rp 633,971,650.00
III PEKERJAAN PONDASI. Rp 572,495,697.66
IV PEKERJAAN BETON LT. DASAR Rp 401,048,499.89
V PEKERJAAN BETON LT. DUA Rp 364,398,557.12
VI PEKERJAAN BETON LT. TIGA Rp 302,489,416.59
VII PEKERJAAN PASANGAN DAN PLESTERAN Rp 338,276,161.37
VIII PEKERJAAN KUSEN PINTU & JENDELA. Rp 526,961,360.00
IX PEKERJAAN KAP / KUDA - KUDA + ATAP. Rp 293,325,000.00
X PEKERJAAN LANTAI. Rp 641,402,737.74
XI PEKERJAAN PLAFOND Rp 558,157,100.00
XII PEKERJAAN SANITAIR,AIR KOTOR & BERSIH. Rp 140,770,988.25
XIII PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK. Rp 437,972,669.97
XIV PEKERJAAN FINISHING CAT Rp 623,515,968.04
XV PEKERJAAN LAIN - LAIN. Rp 248,581,800.00
XVI PEKERJAAN INTERIOR Rp 968,500,000.00
XVII BANGUNAN GEDUNG PENUNJANG (189 M2) Rp 850,500,000.00
XVIII RUMAH PENDETA&GUEST HOUSE (231 M2) Rp 750,750,000.00
TOTAL I Rp 8,781,680,256.63
BIAYA TAK TERDUGA 10% Rp 878,168,025.66
Sub Total Rp 9,659,848,282.30
PPH 4 % Rp 386,393,931.29
JUMLAH Rp 10,046,242,213.59
DIBULATKAN (TOTAL) Rp 10,046,242,000.00
Jumlah ini terasa besar sekali untuk jemaat GKI Kranggan namun demikian, kami yakin dengan campur tangan TUHAN melalui bantuan Bpk/Ibu/Sdr semua menjadi mungkin.
Adapun sumber dana yang kami harapkana adalah :
1. Komitmen Iman Panitia dan Majelis Jemaat
2. Lelang untuk Jemaat yang akan dilakukan dua kali dalam tahun ini
3. Janji iman jemaat
4. Penyebaran Proposal ke jemaat dan simpatisan
Semua Sumbangan dapat ditransfer ke Rekening panitia pembangunan a/n Gereja Kristen Indonesia di BCA Cab. Cibubur A/C 628 0216 788
Besar harapan kami ,Bapak/Ibu/Saudara bisa ikut berpartisipasi bersama kami membangun Gereja Tuhan di dunia. Kiranya TUHAN YESUS sang pemilik gereja memberkati pelayanan Bapak/Ibu/Saudara/i dan kita semua.
Bekasi, 26 July , 2009
Hormat kami
Panitia Pengadaan Lahan dan Pembangunan
GKI Kranggan
Sony Danang Caksono Duma Siahaan
Ketua Panitia Sekretaris
Mengetahui dan Menyetujui
Pdt Iman Sugio Ibrahim Pnt Hiddon Simamora
Ketua Umum Majelis Jemaat Penatua Pendamping
PANITIA PEMBANGUNAN
GEREJA GKI KRANGGAN
CIBUBUR AREA
LATAR BELAKANG
Berdirinya Gereja GKI Kranggan diawali dengan pergumulan pada tahun 1995 oleh Majelis Jemaat GKI Pondok Melati (d/h Pondok Gede/Raya Hankam) untuk dapat melayani anggota jemaat dan warga Kristiani di Wilayah Kranggan dan sekitarnya, maka saat itu dipilihlah rumah di salah satu keluarga di perumahan Kranggan Permai. Peribadatan ini merupakan bagian dari pelayanan GKI yang pertama kali diadakan di wilayah Kranggan yang selanjutnya disebut sebagai Pos Persekutuan Kesaksian dan Pelayanan (PKP) Kranggan. Kemudian untuk mengantisipasi pertumbuhan serta perkembangan jemaat, Pos PKP mengontrak sebuah RUKO (Rumah Toko) di Kompleks Kranggan Permai. Melalui Pelawatan Badan Pekerja Majelis Klasis Jakarta Selatan, maka pada tanggal 14 Juli 2001 PMK-JS memutuskan Pos PKP Kranggan ditingkatkan statusnya menjadi Bakal Jemaat (Bajem) GKI Kranggan. Pada tanggal 14 Agustus 2002, Bajem GKI Kranggan melakukan kebaktian peletakan batu pertama pembangunan rumah peribadatan Bajem GKI Kranggan di lahan Ruko Blok RT12 No 10. yang dipimpin oleh Pdt. Ciptomartalu Sapangi Sth. Kebaktian pertama di Ruko yang baru ini dilakukan pada tanggal 2 February 2003. Dalam waktu enam bulan pembangunan Rumah ibadah ini telah dapat diselesaikan dengan sempurna. Akhirnya berdasarkan pelawatan dan Persidangan Majelis Klasis Jakarta Selatan (MKJS) ke-8 tanggal 23 Juli 2005, maka diputuskan peningkatan status Bajem GKI Kranggan menjadi GKI Kranggan.
Pada tanggal 28 Nopember 2005 di Gedung Pandan Sari – Taman Bunga Wiladatika – Cibubur dilaksanakan kebaktian pelembagaan Bajem GKI Kranggan menjadi GKI Kranggan yang dipimpin oleh Pdt. Yoseph The To Liong. GKI Kranggan merupakan jemaat yang ke-94 di lingkup GKI SW Jabar.
Pertumbuhan Jemaat GKI Kranggan yang begitu cepat menimbulkan konsekuensi logis terhadap kebutuhan ruangan yang juga semakin meningkat.Jika kita melihat pertambahan anggota jemaat tahun 2007 sebanyak 58 orang, tahun 2008 sebanyak 65 orang dan 2009 sampai dengan July sebanyak 61 orang. Kondisi saat ini sebagai gereja yang mandiri, GKI Kranggan melaksanakan kebaktian umum setiap minggu sebanyak 3 (tiga) kali. Pada kebaktian I jam 07.00, rata-rata jumlah pengunjung ± 105 orang, sedangkan Kebaktian II jam 09.00, rata-rata berjumlah ± 225 orang dan Kebaktian III jam 17.00 rata-rata jumlah pengunjung ± 50 orang,. Sedangkan Kebaktian Sekolah Minggu di buka 4 kelas yakni: Kelas Probel, Kelas Kecil, Kelas Besar dan Kelas Pra Remaja. Kebaktian tersebut belum termasuk kegiatan Persekutuan Remaja/Pemuda, Kelas Katekisasi, Persiapan Guru Sekolah Minggu, Pemahaman Alkitab, Komisi Dewasa dll, sehingga seringkali kegiatan-kegiatan tersebut tidak dapat dilakukan karena terbatasnya ruang yang ada
Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah upaya gereja dalam menyikapi Surat Keputusan (SK) Bersama Dua Menteri (Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama) No.: 01/BER/MDN-MAG/1969, serta mengacu pada Peraturan Daerah (PERDA) Kabupaten/Kota Bekasi, yang menyebutkan bahwa: “Bangunan Rumah Toko (RUKO) dan Rumah Tinggal, tidak boleh digunakan untuk/sebagai tempat beribadah” ,
KERINDUAN JEMAAT
Berdasarkan kondisi-kondisi tersebut diatas, maka sebagai gereja yang mandiri GKI Kranggan berkerinduan :
Memiliki lahan/areal tanah yang cukup luas untuk pembangunan gedung/tempat ibadah yang representatif, permanen, lengkap dengan sarana dan prasarananya agar jemaat dapat beribadah dengan nyaman dan aman.
Memenuhi kebutuhan dengan segala aktifitas kegiatannya berupa fasilitas ruang ibadah yang dapat menampung ± 750 orang dimasa mendatang.
Menata dan melengkapi kebutuhan rumah tangganya sendiri sebagai gereja yang mandiri sebagai tempat perjumpaan antara Allah dan umatnya kelengkapan itu antara lain :
1. Ruang konsistori/ruang persiapan ibadah untuk anggota Majelis Jemaat, termasuk ruang tukar/ganti pakaian pengerja/pendeta (saat kebaktian),
2. Ruang rapat majelis dan komisi-komisi/bidang-bidang pelayanan jemaat,
3. Ruang sekolah minggu anak-anak (Kelas Probel, Kelas Kecil, Kelas Besar, Pra Remaja dan Pemuda),
4. Aula untuk aktivitas lainnya.
Menyediakan halaman parkir yang cukup untuk menampung kendaraan motor/ roda dan mobil/roda 4 bagi para jemaat.
Memiliki Sertifikat Hak Atas Tanah, sebagai jaminan kepastian hukum, memiliki IMB dan izin beribadah,
Setelah bergumul lebih dari 4 tahun untuk mencari lahan disertai ijin dari lingkungan untuk membangun Gereja. Maka TUHAN YESUS menjawab dengan menyediakan lahan seluas 2540 meter2 di samping Citragrand untuk Gereja berikut lahan parkirnya. (Foto lahan dan Sertifikat bisa dilihat di website panitia pembangunan : http://gki-kranggan.blogspot.com/ ). Puji TUHAN karena campur tangannya maka ijin dari 90 warga sekitar juga sudah diperoleh dan juga pelunasan lahan sudah berhasil dilakukan bulan Januari 2009.
ANGGARAN
Kami yakin partisipasi Bapak/Ibu/saudara adalah kehendak TUHAN semata untuk membangun tempat ibadah bagi umat NYA memulaikan nama NYA. Adapun perkiraan pengeluaran/kebutuhan dana adalah sebagai berikut :
NO. URAIAN PEKERJAAN JUMLAH HARGA (Rp)
I PEKERJAAN PERSIAPAN Rp 128,562,650.00
II PEKERJAAN TURAP BATU KALI dan PAGAR Rp 633,971,650.00
III PEKERJAAN PONDASI. Rp 572,495,697.66
IV PEKERJAAN BETON LT. DASAR Rp 401,048,499.89
V PEKERJAAN BETON LT. DUA Rp 364,398,557.12
VI PEKERJAAN BETON LT. TIGA Rp 302,489,416.59
VII PEKERJAAN PASANGAN DAN PLESTERAN Rp 338,276,161.37
VIII PEKERJAAN KUSEN PINTU & JENDELA. Rp 526,961,360.00
IX PEKERJAAN KAP / KUDA - KUDA + ATAP. Rp 293,325,000.00
X PEKERJAAN LANTAI. Rp 641,402,737.74
XI PEKERJAAN PLAFOND Rp 558,157,100.00
XII PEKERJAAN SANITAIR,AIR KOTOR & BERSIH. Rp 140,770,988.25
XIII PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK. Rp 437,972,669.97
XIV PEKERJAAN FINISHING CAT Rp 623,515,968.04
XV PEKERJAAN LAIN - LAIN. Rp 248,581,800.00
XVI PEKERJAAN INTERIOR Rp 968,500,000.00
XVII BANGUNAN GEDUNG PENUNJANG (189 M2) Rp 850,500,000.00
XVIII RUMAH PENDETA&GUEST HOUSE (231 M2) Rp 750,750,000.00
TOTAL I Rp 8,781,680,256.63
BIAYA TAK TERDUGA 10% Rp 878,168,025.66
Sub Total Rp 9,659,848,282.30
PPH 4 % Rp 386,393,931.29
JUMLAH Rp 10,046,242,213.59
DIBULATKAN (TOTAL) Rp 10,046,242,000.00
Jumlah ini terasa besar sekali untuk jemaat GKI Kranggan namun demikian, kami yakin dengan campur tangan TUHAN melalui bantuan Bpk/Ibu/Sdr semua menjadi mungkin.
Adapun sumber dana yang kami harapkana adalah :
1. Komitmen Iman Panitia dan Majelis Jemaat
2. Lelang untuk Jemaat yang akan dilakukan dua kali dalam tahun ini
3. Janji iman jemaat
4. Penyebaran Proposal ke jemaat dan simpatisan
Semua Sumbangan dapat ditransfer ke Rekening panitia pembangunan a/n Gereja Kristen Indonesia di BCA Cab. Cibubur A/C 628 0216 788
Besar harapan kami ,Bapak/Ibu/Saudara bisa ikut berpartisipasi bersama kami membangun Gereja Tuhan di dunia. Kiranya TUHAN YESUS sang pemilik gereja memberkati pelayanan Bapak/Ibu/Saudara/i dan kita semua.
Bekasi, 26 July , 2009
Hormat kami
Panitia Pengadaan Lahan dan Pembangunan
GKI Kranggan
Sony Danang Caksono Duma Siahaan
Ketua Panitia Sekretaris
Mengetahui dan Menyetujui
Pdt Iman Sugio Ibrahim Pnt Hiddon Simamora
Ketua Umum Majelis Jemaat Penatua Pendamping
Selasa, 21 Oktober 2008
Gereja Impianku
Gereja Impianku
Apakah ini juga Gereja impian kita ?
Akhir-akhir ini ditengah liburan yang cukup panjang aku kembali mengambil kesempatan untuk merenung dan berdiskusi dengan diriku sendiri dan Tuhanku. Aku juga coba untuk mendiskusikan bahan renungan ini dengan beberapa teman dan tanggapan temanku juga beragam. Ada yang merasa impian ini terlalu tinggi tapi ada yang menganggap ini sebagai keharusan untuk dimiliki semua gereja di masa depan.
Bahan renungan aku adalah : GEREJA seperti apa yang harus kita miliki di masa depan untuk menjadi tempat ibadah kita, rumah pertemuan kita dengan TUHAN dan teman seiman kita dan fungsi lainnya. Saat ini Gereja sangat banyak tidak hanya dari yang berbeda aliran tapi yang satu sinode saja seperti GKI di sepanjang jalan alternatif dari Mc Donald sampai Mekarsari paling tidak sudah ada 3 GKI. Baik yang berupa Pos maupun Geraja penuh seperti gereja kita GKI Kranggan. Kalau dari aliranyang berbeda sepengetahuan saya sudah ada lebih dari 20 gereja baik itu GPdI, GKI, GPIB, GBI, GTI, HKBP, Katalik, Oikomene dll. Itu baru sepanjang jalan yang tidak lebih dari 10 km panjangnya.
Banyaknya jumlah Gereja di suatu tempat , tidaklah mengherankan kalau membuat Gereja saat ini semakin susah karena Gereja makin banyak. Tapi di sisi lain memang jumlah jemaatnya banyak dan kita juga mengalami ruang gereja kita menjadi terlalu kecil untuk menampung jemaat sehingga kita perlu mencari lahan yang lebih besar dan membuat gereja yang lebih mampu menampung jemaat kita.
Di tengah renungan pribadi, saya mencoba bertanya seandainya saja ada Gereja yang bisa menjadi simulasi kondisi Surga di tengah dunia. Pasti gereja semacam ini akan didatangi banyak teman seiman dan diberi ijin dengan mudah. Di gereja semacam ini ada kebiasan yang hidup di jemaat mula-mula seperti yang tertulis di Alkitab. Ada KASIH yang sejati yang hidup di tenagh jemaat dan memancar ke masyarakat sekitar. Hal ini terlihat dengan kebiasan berbagi yang membuat semua jemaat mula-mula bisa berkembang dengan cepat dan menjadi lilin di tengah dunia yang gelap.
Saya coba merenung lebih dalam lagi gereja semacam itu bentuk realnya di masa sekarang ini. Apa ada contoh Gereja seperti itu di Indonesia atau di dunia. Dari bahan renungan saya ada dua contoh gereja yang mendekati yaitu gerejanya Romo Mangun di Jogya dan Gerejanya Bunda Theresa di India. Gereja yang diterima oleh semua masyarakat di sekitarnya tidak peduli latar belakang agamanya dan disayang oleh jemaatnya. Walau masih ada kelemahannya dimana gereja ini tidak bisa menjadi wadah bagi jemaat dari kalangan berada untuk datang dan bersatu dengan jemaat dari kalangan tidak punya untuk beribadah di tempat yang sama. Kalangan berada memang menyumbang tapi tidak menjadi satu bagian. Tapi minimal untuk jemaatnya gereja ini menjadi rumah, menjadi tempat mereka menjaga harapan dan imannya.
Saat ini GKI kranggan sedang dalam proses untuk mencari lahan dan mendirikan gereja baru untuk kita beribadah. Saya berdiskusi dengan diri saya sendiri, seandainya saja ada teman-teman yang bermimpi untuk membuat gereja dengan konsep seperti di atas. Dimana ada gedung gereja yang bisa menampung jemaat dari kalangan berpunya dan tidak berpunya duduk dan menyembah sama rendah di depan TUHAN. Ada jemaat yang komit untuk memberikan perpuluhan yang memang menjadi hak TUHAN sehingga di rumah Tuhan tidak pernah kekurangan. Disamping itu penggunaan perpuluhan juga terlihat jelas manfaatnya sehingga jemaat senang memberikan semua kewajiban perpuluhannya di gereja saja. Penggunaan perpuluhan yang saya renungkan adalah pertama untuk menjalankan roda aktifitas gereja yang rutin (gaji pekerja, biaya listrik, biaya telpon dll), ada sekolah di gereja yang bisa memberikan pendidikan gratis untuk semua anak yang tidak mampu dan ada kualitas yang baik sehingga anak dari keluarga mampu juga mau bersekolah di situ dan membayar, ada lembaga kursus keahlian yang bisa membekali jemaat dan masyarakat sekitar dengan ketrampilan (bahasa, komputer, mesin, elektronik dll) yang mereka butuhkan untuk mendapatkan kesempatak kerja, serta kursus-kursus singkat seputar pemahaman alkitab serta ketrampilan mengajar dan berceramah, ada perpustakaan lengkap yang bisa dinikmati oleh semua orang, ada poliklinik yang memungkinkan semua orang sakit untuk berobat dengan murah dan bahkan gratis dengan tetap mengutamakan mutu dan lebih sempurna jika ada Panti asuhan dan Panti jompo-nya. Semua pelayanan gereja tadi baik itu untuk sekolah dan kesehatan harus bisa juga dinikmati lingkungan sekitar tanpa harus memandang latar belakang agamanya. Lalu saya bertanya apakah mungkin perpuluhan jemaat cukup untuk itu semua ? Imaginasi saya melayang ke gereja Ibu Theresa yang bisa membantu banyak orang miskin walau jemaatnya tidak ada yang berpunya. Saya yakin TUHAN akan mencukupkan dan membuka hati banyak anak TUHAN. Bagaimana pula dengan pekerjanya jika lingkup pekerjaannya begitu besar. Pertanyaan ini juga terjawab dengan mengingat pengalaman masa muda saya masa di awal saya menerima TUHAN YESUS sebagai TUHAN dan juruslamat pribadi saya, masa dimana saya masih kelas 3 SMP, ketika itu semua hidup sya berubah dan saya melihat semua menjadi mungkin dan ada gairah yang menyala untuk selalu melayani TUHAN. Gairah yang terus hidup sampai sekarang, walau manisfestasinya berubah dari berada di gereja menjadi melayani dalam arti yang lebih luas seiring bertambahnya usia. Saya yakin semangat yang sama pasti ada juga di hati semua jemaat yang merasa sudah dilahirkan kembali . Semangat yang tidak bisa dibendung dan menjadi bukti kecintaan seorang anak TUHAN kepada TUHAN yang sudah menyelamatkannya. Dengan jumlah jemaat yang ada saat ini dan pasti lebih banyak dari jumlah rasul Yesus yang Cuma 12, bersama Tuhan Yesus yang sekarang hidup di hati kita dan menyertai , kita pasti bisa membuat perkara yang lebih besar. Jemaat hanya perlu melayani di bidang yang dia kuasai dan sukai atau yang Tuhan gerakkan di hatinya. Semua jemaat ambil bagian, yang bertalenta mengajar akan mengajar di sekolah, yang punya latar belakang medis akan membantu di poliklinik, yang punya keahlian akan mengajar kursus, yang punya dasar sekolah Alkitab akan membagikan ilmunya, yang punya latar belakang psikolog akan dengan senang hati membantu konseling jemaat yang punya masalah, yang diberkati akan menyalurkan berkatnya untuk menopang biaya gereja dan pelayanannya dll dll. Semua ambil bagian dan semua terlibat, baik berupa tenaga maupun dana. Semua dengan tujuan yang sama melayani Tuhan dan sesama sebagai bukti kecintaan pada Tuhan dan sesama yang merupakan inti ajaran TUHAN YESUS yang tertulis di Alkitab. Semua bisa lebih mudah jika semua terlibat.
Saya rasa jika gereja dari awal berdirinya bukan hanya menjadi tempat ibadah yang bisa dinikmati oleh orang kristen saja tapi juga bisa memberi manfaat untuk lingkungan sekitar gereja pada khusunya dan bangsa serta negara pada umumnya, pastilah gereja itu mungkin akan lebih mudah mengurus ijinnya dan mencari dananya. Kalau saja gereja yang lengkap itu adalah gereja GKI kranggan kita dan itu menjadi cikal bakal bentuk semua gereja GKI di Indonesia dan juga akhirnya menjadi bentuk baku semua gereja di indonesia saya yakin gereja akan memebri sumbangan nyata bagi negara ini. Saya yakin anak jalanan akan hilang karena mereka punya kesempatan sekolah lagi atau minimal mengikuti kursus ketrampilan sesuai dengan minat dan kemapuan mereka.
Jemaat gereja juga bisa hidup dengan lebih tenang karena jika saja sekarang mereka yang sedang diberkati TUHAN sewaktu-waktu dipanggil TUHAN maka anak-nya akan bisa tetap sekolah di sekolah yang bagus, keluarganya tetap bisa mendapat layanan kesehatan yang baik dll. Iman kita yang mengajarkan bahwa kita tidak usah kawatir akan apapun juga dan percaya TUHAN menjaga semua anak TUHAN , terlihat dengan jelas dan nyata dalam bentuk kehadiran gereja kita..
Och seandainya gereja semacam itu adalah gereja kita ? Tuhan Yesus apakah mimpiku ini hanya kayalanku atau memang gereja seperti itu yang kau kehendaki ada di dunia ini.
Apakah ini juga Gereja impian kita ?
Akhir-akhir ini ditengah liburan yang cukup panjang aku kembali mengambil kesempatan untuk merenung dan berdiskusi dengan diriku sendiri dan Tuhanku. Aku juga coba untuk mendiskusikan bahan renungan ini dengan beberapa teman dan tanggapan temanku juga beragam. Ada yang merasa impian ini terlalu tinggi tapi ada yang menganggap ini sebagai keharusan untuk dimiliki semua gereja di masa depan.
Bahan renungan aku adalah : GEREJA seperti apa yang harus kita miliki di masa depan untuk menjadi tempat ibadah kita, rumah pertemuan kita dengan TUHAN dan teman seiman kita dan fungsi lainnya. Saat ini Gereja sangat banyak tidak hanya dari yang berbeda aliran tapi yang satu sinode saja seperti GKI di sepanjang jalan alternatif dari Mc Donald sampai Mekarsari paling tidak sudah ada 3 GKI. Baik yang berupa Pos maupun Geraja penuh seperti gereja kita GKI Kranggan. Kalau dari aliranyang berbeda sepengetahuan saya sudah ada lebih dari 20 gereja baik itu GPdI, GKI, GPIB, GBI, GTI, HKBP, Katalik, Oikomene dll. Itu baru sepanjang jalan yang tidak lebih dari 10 km panjangnya.
Banyaknya jumlah Gereja di suatu tempat , tidaklah mengherankan kalau membuat Gereja saat ini semakin susah karena Gereja makin banyak. Tapi di sisi lain memang jumlah jemaatnya banyak dan kita juga mengalami ruang gereja kita menjadi terlalu kecil untuk menampung jemaat sehingga kita perlu mencari lahan yang lebih besar dan membuat gereja yang lebih mampu menampung jemaat kita.
Di tengah renungan pribadi, saya mencoba bertanya seandainya saja ada Gereja yang bisa menjadi simulasi kondisi Surga di tengah dunia. Pasti gereja semacam ini akan didatangi banyak teman seiman dan diberi ijin dengan mudah. Di gereja semacam ini ada kebiasan yang hidup di jemaat mula-mula seperti yang tertulis di Alkitab. Ada KASIH yang sejati yang hidup di tenagh jemaat dan memancar ke masyarakat sekitar. Hal ini terlihat dengan kebiasan berbagi yang membuat semua jemaat mula-mula bisa berkembang dengan cepat dan menjadi lilin di tengah dunia yang gelap.
Saya coba merenung lebih dalam lagi gereja semacam itu bentuk realnya di masa sekarang ini. Apa ada contoh Gereja seperti itu di Indonesia atau di dunia. Dari bahan renungan saya ada dua contoh gereja yang mendekati yaitu gerejanya Romo Mangun di Jogya dan Gerejanya Bunda Theresa di India. Gereja yang diterima oleh semua masyarakat di sekitarnya tidak peduli latar belakang agamanya dan disayang oleh jemaatnya. Walau masih ada kelemahannya dimana gereja ini tidak bisa menjadi wadah bagi jemaat dari kalangan berada untuk datang dan bersatu dengan jemaat dari kalangan tidak punya untuk beribadah di tempat yang sama. Kalangan berada memang menyumbang tapi tidak menjadi satu bagian. Tapi minimal untuk jemaatnya gereja ini menjadi rumah, menjadi tempat mereka menjaga harapan dan imannya.
Saat ini GKI kranggan sedang dalam proses untuk mencari lahan dan mendirikan gereja baru untuk kita beribadah. Saya berdiskusi dengan diri saya sendiri, seandainya saja ada teman-teman yang bermimpi untuk membuat gereja dengan konsep seperti di atas. Dimana ada gedung gereja yang bisa menampung jemaat dari kalangan berpunya dan tidak berpunya duduk dan menyembah sama rendah di depan TUHAN. Ada jemaat yang komit untuk memberikan perpuluhan yang memang menjadi hak TUHAN sehingga di rumah Tuhan tidak pernah kekurangan. Disamping itu penggunaan perpuluhan juga terlihat jelas manfaatnya sehingga jemaat senang memberikan semua kewajiban perpuluhannya di gereja saja. Penggunaan perpuluhan yang saya renungkan adalah pertama untuk menjalankan roda aktifitas gereja yang rutin (gaji pekerja, biaya listrik, biaya telpon dll), ada sekolah di gereja yang bisa memberikan pendidikan gratis untuk semua anak yang tidak mampu dan ada kualitas yang baik sehingga anak dari keluarga mampu juga mau bersekolah di situ dan membayar, ada lembaga kursus keahlian yang bisa membekali jemaat dan masyarakat sekitar dengan ketrampilan (bahasa, komputer, mesin, elektronik dll) yang mereka butuhkan untuk mendapatkan kesempatak kerja, serta kursus-kursus singkat seputar pemahaman alkitab serta ketrampilan mengajar dan berceramah, ada perpustakaan lengkap yang bisa dinikmati oleh semua orang, ada poliklinik yang memungkinkan semua orang sakit untuk berobat dengan murah dan bahkan gratis dengan tetap mengutamakan mutu dan lebih sempurna jika ada Panti asuhan dan Panti jompo-nya. Semua pelayanan gereja tadi baik itu untuk sekolah dan kesehatan harus bisa juga dinikmati lingkungan sekitar tanpa harus memandang latar belakang agamanya. Lalu saya bertanya apakah mungkin perpuluhan jemaat cukup untuk itu semua ? Imaginasi saya melayang ke gereja Ibu Theresa yang bisa membantu banyak orang miskin walau jemaatnya tidak ada yang berpunya. Saya yakin TUHAN akan mencukupkan dan membuka hati banyak anak TUHAN. Bagaimana pula dengan pekerjanya jika lingkup pekerjaannya begitu besar. Pertanyaan ini juga terjawab dengan mengingat pengalaman masa muda saya masa di awal saya menerima TUHAN YESUS sebagai TUHAN dan juruslamat pribadi saya, masa dimana saya masih kelas 3 SMP, ketika itu semua hidup sya berubah dan saya melihat semua menjadi mungkin dan ada gairah yang menyala untuk selalu melayani TUHAN. Gairah yang terus hidup sampai sekarang, walau manisfestasinya berubah dari berada di gereja menjadi melayani dalam arti yang lebih luas seiring bertambahnya usia. Saya yakin semangat yang sama pasti ada juga di hati semua jemaat yang merasa sudah dilahirkan kembali . Semangat yang tidak bisa dibendung dan menjadi bukti kecintaan seorang anak TUHAN kepada TUHAN yang sudah menyelamatkannya. Dengan jumlah jemaat yang ada saat ini dan pasti lebih banyak dari jumlah rasul Yesus yang Cuma 12, bersama Tuhan Yesus yang sekarang hidup di hati kita dan menyertai , kita pasti bisa membuat perkara yang lebih besar. Jemaat hanya perlu melayani di bidang yang dia kuasai dan sukai atau yang Tuhan gerakkan di hatinya. Semua jemaat ambil bagian, yang bertalenta mengajar akan mengajar di sekolah, yang punya latar belakang medis akan membantu di poliklinik, yang punya keahlian akan mengajar kursus, yang punya dasar sekolah Alkitab akan membagikan ilmunya, yang punya latar belakang psikolog akan dengan senang hati membantu konseling jemaat yang punya masalah, yang diberkati akan menyalurkan berkatnya untuk menopang biaya gereja dan pelayanannya dll dll. Semua ambil bagian dan semua terlibat, baik berupa tenaga maupun dana. Semua dengan tujuan yang sama melayani Tuhan dan sesama sebagai bukti kecintaan pada Tuhan dan sesama yang merupakan inti ajaran TUHAN YESUS yang tertulis di Alkitab. Semua bisa lebih mudah jika semua terlibat.
Saya rasa jika gereja dari awal berdirinya bukan hanya menjadi tempat ibadah yang bisa dinikmati oleh orang kristen saja tapi juga bisa memberi manfaat untuk lingkungan sekitar gereja pada khusunya dan bangsa serta negara pada umumnya, pastilah gereja itu mungkin akan lebih mudah mengurus ijinnya dan mencari dananya. Kalau saja gereja yang lengkap itu adalah gereja GKI kranggan kita dan itu menjadi cikal bakal bentuk semua gereja GKI di Indonesia dan juga akhirnya menjadi bentuk baku semua gereja di indonesia saya yakin gereja akan memebri sumbangan nyata bagi negara ini. Saya yakin anak jalanan akan hilang karena mereka punya kesempatan sekolah lagi atau minimal mengikuti kursus ketrampilan sesuai dengan minat dan kemapuan mereka.
Jemaat gereja juga bisa hidup dengan lebih tenang karena jika saja sekarang mereka yang sedang diberkati TUHAN sewaktu-waktu dipanggil TUHAN maka anak-nya akan bisa tetap sekolah di sekolah yang bagus, keluarganya tetap bisa mendapat layanan kesehatan yang baik dll. Iman kita yang mengajarkan bahwa kita tidak usah kawatir akan apapun juga dan percaya TUHAN menjaga semua anak TUHAN , terlihat dengan jelas dan nyata dalam bentuk kehadiran gereja kita..
Och seandainya gereja semacam itu adalah gereja kita ? Tuhan Yesus apakah mimpiku ini hanya kayalanku atau memang gereja seperti itu yang kau kehendaki ada di dunia ini.
Langganan:
Postingan (Atom)
Foto Gereja Impian